Kursus Komputer Gratis Kelas Anak-anak

Kursus Komputer Gratis Kelas Anak-anak

Galeri Foto

Alhamdulillah hari ini dibuka kelas pertama. Sebanyak lebih dari 30 anak begitu semangat dan antusias. Diawali dengan pemahaman tentang apa itu komputer, sejarah komputer, dan program yang ada di dalamnya serta bagaimana komputer di masa akan datang membuat anak-anak membuka pikirannya ttg kecanggihan teknologi. Semoga menjadi wasilah pembuka impian positif untuk generasi milenial zaman now.

Galeri Foto

Menerima tamu mahasiswa ekonomi syariah IPB dan komunikasi Universitas Pakuan , ke 3 mahasiswa ini sudah bolak-balik konsultasi terkait skripsinya tentang kampung wisata bisnis Tegalwaru.

Mahasiswa ekonomi syariah IPB tertarik meneliti tentang prospek pembentukan BMT syariah dalam mendongrak bisnis UKM dan menjadikan lembaga finansial yang amanah dan aman serta melepas masyarakat dari jeratan bank keliling.

Mahasiswa ke dua tertarik meneliti tentang proses penerapan parawisata halal di kampung wisata bisnis Tegalwaru dan ini sangat menarik dikarenakan konsep wisata halal sekarang sedang gencar di naikan oleh dinas pariwisata. Sambil diskusi, Alhamdulillah beberapa syarat sudah terpenuhi. 1. Masyarakat yang menjauh dari riba dalam sistem transaksinya, 2. Penerapan sikap memilih produk yang halal dalam keluarga, 3. Terciptanya masyarakat yang ramah (muslim friendly) karena di sini Alhamdulillah ada sekitar 100 home stay siap menerima tamu untuk menginap dan sinergi lainya. Semoga penelitiannya nanti bisa memberikan rekomendasi positif kepada warga Tegalwaru.

Sedangkan Shella mahasiswi dari Universitas Pakuan meneliti tentang konsep pola komunikasi yang di bangun baik internal maupun eksternal sehingga keberadaan kampung wisata bisnis Tegalwaru ini sedemikian dapat dirasakan oleh banyak pihak.

Semoga hasil skripsi mahasiswa ini bisa menjadi sebuah konsep dan rujukan untuk pengembangan di wilayah lain, amiin…

Sang Pelopor kampung Bisnis dari Tegal Waru

Sang Pelopor kampung Bisnis dari Tegal Waru

Media Online

Lewat ketekunan dan semangat pengabdian, Tatiek Kancaniati berhasil mengubah wajah kampung yang mulanya mati dari geliat bisnis menjelma sebagai kampung wisata. Berkat usaha kerasnya pula Desa Tegal Waru kini mampu menyedot pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, ibu-ibu PKK, majelis taklim, hingga pebisnis dari seluruh Indonesia.

Lahir dan besar di Desa Tegal Waru, Bogor, membuat Tatiek hapal betul dengan pola kehidupan kaum perempuan di kampung halamannya. Tatiek melihat fenomena dari teman semasa kecilnya, tua sebelum waktunya. Meskipun banyak yang mempunyai usaha rumahan, banyak juga yang putus sekolah lalu menikah. Selanjutnya hanya menjadi ibu rumah tangga tanpa punya keterampilan, dan ada juga yang bekerja dengan upah rendah. Melihat kenyataan inilah, Tatiek mulai berpikir ingin menjadi motor penggerak pengembangan wanita pedesaan. Dengan mendirikan Yayasan Kuntum (Kreativitas Usaha Unit Muslimah) Indonesia tahun 2006, Tatiek memberdayakan ekonomi perempuan desanya dengan memberikan berbagai pelatihan keterampilan untuk usaha rumahan sehingga isu pernikahan dini serta putus sekolah bisa terpecahkan. Namun, karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman, kegiatan Yayasan Kuntum Indonesia tidak berjalan semestinya.

NOOR STAR

Kegagalan tak menyurutkan langkah perempuan kelahiran 1 Oktober 1974 ini. Setelah menyelesaikan pendidikannya dan mengikuti program social entrepreneur leader, Tatiek kembali bersemangat untuk memperbaiki kualitas kesejahteraan perempuan di kampungnya dengan melakukan pemetaan dan menentukan prioritas kegiatan. Ia terus bersilaturahmi dan melakukan pendampingan kepada masyarakat, baik dalam bentuk modal usaha, manajemen, dan pemasaran produk. Karena masyarakat Tegal Waru umumnya adalah pebisnis yang mempunyai usaha rumahan, Tatiek akhirnya menggagas sebuah Kampung Wisata Bisnis Tegal Waru. Dia pun mulai memahami psikologi masyarakat pedesaan yang sebetulnya mudah dirangkul asalkan dilakukan dengan pendekatan silaturahmi yang baik.

Di sela kesibukannya yang padat, Tatiek menyempatkan waktu berbincang dengan NooR. Berikut kutipannya:
Mengapa ibu begitu ingin menjadikan kampung Tegal Waru sebagai pusat usaha dan kapan tercetusnya?

Sebagai perempuan dan tinggal di desa, saya mempunyai impian mengubah wajah desa menjadi lebih berwarna, lebih mandiri secara finansial. Saya tidak ingin melihat banyak perempuan yang menikah muda dan tak jarang menjadi janda di usia belia. Saya juga melihat warga desa sebenarnya gemar berbisnis, tapi tidak mampu mengembangkan bisnisnya. Salah satu contohnya banyak industri rumahan yang membuat selai kelapa, tapi air kelapa, arang, dan dagingnya tidak dimanfaatkan. Padahal, itu bisa dibikin nata de coco, arang, hiasan bunga, dan kancing. Kebanyakan dari mereka tidak tahu mengenai pemanfaatan limbah. Hal inilah yang membuat saya harus memutar otak untuk memberdayakan mereka.

Teks: Shiera Heltiani | Foto: Shiera Heltiani & Dok. pribadi | Stylist: Maya

 

Baca selengkapnya di Majalah NooR Volume XII tahun 2014

PEREMPUAN PELOPOR KAMPUNG WISATA

PEREMPUAN PELOPOR KAMPUNG WISATA

Media Online

Bogor, Konde.co – Jika Anda jenuh dengan rutinitas yang tiap hari melulu melakukan aktivitas yang sama, atau penat menghadapi kemacetan Jakarta, cobalah datang ke kampung ini.

Kampung Tegalwaru, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Kampung yang lokasinya tak jauh dari Kampus Institut Pertanian (IPB) Bogor ini memberikan perspektif berbeda tentang sebuah wirausaha, kampung, dan semangat warganya.

Berwisata di kampung yang masih asri, sejuk, dan tenang ini Anda akan disuguhi aneka macam usaha yang dibangun dari semangat yang luar biasa warganya.

Siang itu cuaca cukup terik. Odong-odong yang dinaiki para pengunjung berkaos orange sebanyak 15 orang berputar-putar, turun dari satu tempat ke tempat lain. Karena jumlah peserta sebanyak 30 orang lebih odong-odong terpaksa harus bolak-balik menjemput dan mengantar para pengunjung Kampoeng Wisata Bisnis Desa Tegalwaru yang berasal dari sebuah perbankan.

Biasanya ada dua odong-odong yang mengantarkan pengunjung. Namun hari itu satu odong-odong mengalami kerusakan, jadi terpaksa hanya satu odong-odong berwarna hijau yang bisa beroperasi.

Di antara para pengunjung terdapat seorang perempuan berjilbab yang senantiasa mendampingi dan menjawab segala pertanyaan para pengunjung tentang sentra usaha di Desa Tegalwaru. Dia adalah Tatiek Kancaniati (42). Pendiri dan pelopor Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru.

Nama Tatiek di desa dengan jumlah penduduk sekitar 12.123 jiwa ini cukup familiar. Apalagi di mata para pemilik usaha di Desa Tegalwaru. Badrusalam atau yang akrab disapa Ibad (52), pemilik gerai Midpertas misalnya. Ia mengenal Tatiek sudah cukup lama, apalagi ibu dua anak ini merupakan warga setempat. Namun kedekatannya mulai intens sejak Tatiek membuat gagasan mendirikan Kampoeng Wisata Bisnis.

Ibad bercerita UKM yang ia dirikan pada 1998 mulanya hanyalah sebuah usaha rumahan yang hanya membuat tas satu dua buah. Ia terpaksa membuat tas karena tempat kerjanya di Jakarta hangus dari amukan massa saat peristiwa huru-hara 98.

“Saya tak berani berangkat ke Jakarta karena takut,” katanya kepada penulis.

Tak ingin menganggur terlalu lama juga karena dapur harus tetap mengepul Ibad berinisiatif membuka usaha sendiri. Kala itu ia tak memiliki mesin jahit. Ia meminjam saudaranya untuk membuat tas. Tas buatannya ia titipkan ke toko-toko penjualan tas di sekitar Bogor. Hingga suatu hari di tahun 2001 sebuah perusahaan mengajaknya bekerjasama dan bersedia mendanai usahanya.

Perlahan usaha Ibad berkembang. Ia mempekerjakan 100 lebih pekerja yang khusus membuat tas. Namun Ibad mengaku mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya. Lantas pada 2010 Tatiek mengajak UKM-nya bersama-sama belasan UKM lainnya untuk bergabung menjadi salah satu tujuan wisata bisnis.

Tatiek kemudian menawarkan program dengan menjadikan Desa Tegalwaru sebagai Kampoeng Wisata Bisnis supaya UKM di desanya dikenal masyarakat di luar Tegalwaru. Kini, sejak kampungnya menjadi kampung wisata bisnis usaha Ibad terus berkembang. Dalam sepekan ia bisa mendapat pesanan 300 lusin atau sekitar 1.000 lusin tas setiap bulannya.

“Saya merasakan manfaat langsung  usaha bu Tatiek yang mendirikan Kampoeng Wisata Bisnis. Karena produk saya akhirnya dikenal banyak orang,” ujarnya.

Dari usahanya dalam sebulan Ibad menerima omzet ratusan juta rupiah. Dan  empat tahun belakangan ia telah memiliki gerai yang diberi nama Midpertas untuk memasarkan tasnya. Lokasinya tepat berada di seberang depan rumah yang digunakan sebagai tempat pembuatan tas. Jadi, setelah mengetahui proses pembuatan tas para pengunjung bisa melihat langsung hasilnya di gerai. Harga tas yang dipatok juga relatif murah, berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 300 ribu.

Tak hanya Ibad yang mendapat banyak manfaat dari pembentukan Kampoeng Wisata Bisnis di desanya. Sutiah (62), pengelola kebun herbal ‘Imah Sehat’ juga memberikan pengakuan yang sama. Ia mengatakan, sebelum ada Kampoeng Wisata Bisnis, kebun herbal beserta hasil pengolahan obat-obatan herbal yang ia namai Sari Sehat hanya diketahui masyarakat sekitar. Namun, kondisinya berubah pesat begitu Kampoeng Wisata Bisnis dibentuk.

Saat ini produk tanaman herbalnya dikenal luas dan banyak masyarakat di luar Bogor dan Jakarta bahkan sampai Hong Kong memesan produknya.

 

Sumber : Konde.co

Kunjungan ke Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru

Kunjungan ke Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru

Media Online

Pada tanggal 20 Februari 2013 lalu, Yayasan Pandu Cendekia bersama dengan PT. Indolearning melakukan kunjungan ke Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru, Bogor. Kunjungan ini pertama dilakukan oleh Yayasan Pandu Cndekia dan kawan-kawan dari Indolearning. Kampoeng Wisata Bisnis merupakan kegiatan pengembangan bisnis dan pemberdayaan masyarakat yang dipelopori oleh ibu Tatiek. Beliau telah melakukan kegiatan ini semenjak dua tahun yang lalu.

 

Dalam bincang-bincang dengan bu Tatiek, beliau menceritakan bagaimana kegiatan ini dimulai. Cukup banyak cobaan, rintangan dan kendala-kendala yang dihadapi, tapi beliau mampu menghadapinya dengan bersabar. Selama dua tahun, Kampoeng Wisata Bisnis dengan kegiatan usahanya telah memiliki omzet sebesar dua milyar rupiah perbulan, sebuah angka yang cukup besar.

 

Kampoeng Wisata Bisnis bukan hanya melakukan kegiatan usaha tapi juga mengadakan pelatihan-pelatihan usaha bagi masyarakat umum yang ingin melakukan usaha sesuai dengan pelatihan yang diadakan. Sudah cukup banyak pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Kampoeng Wisata Bisnis, baik dilokasi tempat kegiatan Kampoeng Wisata Bisnis berada, atau di lokasi lain sesuai dengan permintaan peserta pelatihan.

 

Melihat keberhasilan bu Tatiek dalam mengembangkan usaha yang berbasis pemberdayaan masyarakat menginspirasi kami sebagai sebuah Yayasan yang juga memiliki basis yang sama untuk mengadopsi kegiatan Kampoeng Wisata Bisnis untuk diaplikasikan ditempat lain yang menjadi basis pemberdayaan Yayasan Pandu Cendekia. insyaAllah dalam waktu dekat Yayasan Pandu Cendekia akan memulainya dengan mengadakan pelatihan usaha yang diikuti oleh para orang tua atau wali anak asuh YPC yang kemudian ditindak lanjuti dengan kegiatan usaha yang disponsori oleh Yayasan Pandu Cendekia.

 

Mudah-mudahan kegiatan ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya para peserta, sehingga mereka dapat hidup mandiri dan terhindar dari ketergantungan bantuan lembaga-lembaga sosial,bahkan diharapkan mereka mampu ber metamorfosa dari mustahik menjadi muzakki, amin.

 

Sumber : Pandu Cendekia

Kampung UKM Digital Wisata Tegalwaru

Kampung UKM Digital Wisata Tegalwaru

Media Online

Kampung Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, kini menjelma sebagai kampung wisata yang mampu menyedot pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, ibu-ibu PKK, majelis taklim, hingga para pebisnis dari seluruh Indonesia. Para pengunjung bisa menikmati nuansa pedesaan di Tegalwaru, sekaligus melihat langsng proses produksi berbagai lini bisnis berbasis home industry.

Berlokasi di Kampung Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Bogor, Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk menjadi urat nadi perekonomian desa. Mulai dari kerajinan sampai dengan kuliner yang ada di desa ini menjadikan Kampung Tegalwaru sebagai sentra UKM di kota Bogor.

Kerajinan yang diproduksi di Kampung Wisata Tegalwaru antara lain: wayang golek, gendang, pandai besi, tas, ukiran, sandal, anyaman, jaket, kerudung. Sedangkan untuk kuliner yaitu makanan ringan/snack, pindang, jamu dan obat herbal. Total UKM yang ada di kampung ini berjumlah sekitar 2000 UMKM.

Dari berbagai macam barang dan jasa yang dihasilkan biasanya dijual melalui toko-toko yang ada di Kampung Tegalwaru, Ciampea maupun orderan yang datang dari luar kota, bahkan sudah sampai luar negeri!

Untuk mengakomodir kepentingan para pengrajin/UMKM dan juga membina pengetahuan dan skill pengrajin, di Kampung Wisata Tegalwaru dibentuk komunitas bernama ‘Kampung Bisnis’. Banyak kegiatan yang dilakukan, misalnya mengikuti pameran di Jabotabek maupun luar daerah, sosialisasi seputar wirausaha/bisnis maupun pelatihan kepada para UKM.

 

Sumber : Kampung UKM Digital

Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru Bogor

Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru Bogor

Media Online

108jakarta.com – Berlokasi di Jalan  Pulekan No. 31, RT.1 / RW.1, Ciampea, Bojong Jengkol, Ciampea, Bogor, Jawa Barat,  Desa Tegalwaru memiliki jumlah penduduk 12.123 jiwa dan sebagian besar berprofesi sebagai petani dan wirausaha.

Lingkungan yang asri didataran Gunung Salak Endah memberikan keuntungan bagi para petani dalam menggarap lahan pertaniannya.

Desa Tegal waru terdiri dari 6 RW dan 38 RT, dan masing-masing RW memiliki spesifikasi usaha masyarakat. Di RW 01 beberapa warga memilih alternatif pencaharian keluarganya sebagai pengrajin anyaman bambu dan bilik.

RW 02 terdapat pengrajin pandai besi dan pesanan golok ukir. RW 03 karena wilayahnya yang masih luas oleh lahan pertanian, menjadikan warga RW 03 ini menggarap lahan mereka dengan tanaman obat, buah dan tanaman hias.

RW 04 berbagai industri pembuatan selai kelapa dan pembiakan ikan patin. Dari limbah indusri selai kelapa, berpotensi melahirkan aneka usaha seperti briket arang, nata de coco dan aksesoris.

RW 05 pun terdapat industri rumahan berupa pengolahan kecap, cuka, saus dan minuman orson, walau menggunakan media produksi yang sangat sederhana, namun bisnis ini telah mampu memberikan pemasukan keluarga.

RW 06 masyarakat dominan sebagai pedagang dan tukang bangunan tapi di beberapa area terdapat budidaya tanaman DAS yang telah cukup diakui banyak pihak.

Suasana pedesaan yang asri ditambah bisnis berbasis home industri, menjadikan kampung  ini sebagai kampung wisata bisnis yang banyak dikunjungi wisatawan. (suh)

 

Sumber : 108 Jakarta

Tatiek persembahkan kampung wisata bisnis bagi UKM

Tatiek persembahkan kampung wisata bisnis bagi UKM

Media Online

Terdorong untuk memberdayakan pelaku UKM di desanya, Tatiek Kancaniati merintis pendirian Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Dikunjungi sekitar 6.000 orang, omzet total yang didapat pelaku UKM di Tegalwaru mencapai Rp 2 miliar per bulan.

Sejak 2007, Tatiek Kancaniati fokus melakukan pemberdayaan dan pengembangan usaha kecil menengah (UKM) di Desa Tegalwaru, Ciampea, Kabupaten Bogor. Tatiek sendiri merupakan warga asli desa tersebut.

Ia tergerak memberdayakan para pengusaha kecil di desanya setelah beberapa kali mengikuti pelatihan social entrepreneur leader yang diadakan oleh Dompet Dhuafa. Pelatihan itu sendiri bertujuan untuk membangun jiwa entrepreneur. “Kebetulan suami saya bekerja di Dompet Dhuafa,” kata Tatiek.

Guna mempraktikkan hasil pelatihan itu, ia pun mendirikan Yayasan Kuntum Indonesia. Yayasan itu didirikan pada 2007. Lewat yayasan itu, dia mengajak ibu-ibu rumah tangga untuk terlibat dalam usaha pembuatan tas anyaman bambu.

Setahun kemudian, ia juga merintis usaha produksi nata de coco. Usaha ini juga melibatkan warga desa setempat. Ide usaha ini didapat setelah ia melihat banyaknya limbah air kelapa di desanya. “Kebetulan di Tegalwaru ada pabrik selai kelapa. Nah, limbah air kelapanya saya manfaatkan untuk nata de coco,” kata Tatiek.

Selain dirinya sendiri, Tatiek juga mendorong warga lain di desanya untuk memproduksi nata de coco. Hingga saat ini, sudah ada tiga produsen nata de coco di Tegalwaru, termasuk Tatiek.

Selain nata de coco, ia juga memproduksi arang briket batok kelapa. Demi kemajuan usahanya, pada 2011 ia mengubah nama yayasannya menjadi Kuntum Organizer.

Melalui yayasan itu, Tatiek menggandeng para pemilik usaha lain di Tegalwaru untuk menjadikan desa mereka sebagai Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Kebetulan di Tegalwaru terdapat belasan unit usaha. Di antaranya usaha peternakan, perikanan, nata de coca, kerajinan tas, kerupuk, dan masih banyak lagi.

Tujuan mendirikan kampung wisata bisnis itu tidak lain untuk membantu mengatasi kendala pemasaran yang banyak dihadapi pelaku UKM di desanya. Upaya itu tidak sia-sia. Ia mengklaim, banyak orang kini mengunjungi desanya. “Kami memberikan pelatihan bagi para pengunjung yang datang,” ujarnya.

Setiap pengunjung dipungut bayaran Rp 25.000 untuk mengikuti pelatihan di satu bidang usaha tertentu, lengkap dengan praktik dan tutorial. Sepanjang tahun ini, Tegalwaru telah dikunjungi sekitar 6.000 orang. “Pengunjung datang dari Aceh hingga Papua, baik instansi pemerintah hingga mahasiswa untuk studi banding,” imbuh Tatiek.

Banyak juga pengunjung yang kemudian tertarik memasarkan produk UKM dari desa tersebut. Hasilnya? Tatiek bilang, total omzet yang didapat seluruh pelaku UKM di Tegalwaru kini mencapai Rp 2 miliar per bulan. Dengan jumlah penduduk mencapai 12.000 jiwa, sekitar 40%-nya kini terlibat di dalam kampung wisata ini.

 

Sumber : Kontan

Kampung Wisata Bisnis Desa Tegalwaru

Kampung Wisata Bisnis Desa Tegalwaru

Media Online

Kampung Wisata Bisnis , dari beberapa kata ini , yang bisa kita bayangkan tentunya sebuah semangat yang luar biasa yang dimiliki oleh masyarakat desa tegalwaru . Sebuah desa di kabupaten bogor namanya desa tegalwaru . kurang lebih 1 jam dari Jakarta perjalanan yang kami tempuh.

Karena penasaran seperti apa kampung wisata bisnis yang buat oleh masyarakat tegalwaru dan tentunya untuk kami bisa belajar seperti apa membangun  kampung wisata bisnis.

Sebuah konsep yang sangat sederhana dan kreatif membangun sebuah kawasan desa wisata tanpa harus berfikir rumit untuk mencari investor , hanya cukup dengan kebersamaan dan semangat untuk maju , warga desa tegalwaru mampu membuat desa mereka manjadi sebuah kampung wisata bisnis . Awalnya kenapa kami ingin berkunjung ke desa tegalwaru adalah untuk belajar bagaimana menanam dan mengolah tanaman herbal , sangat sederhana cukup dengan menanam bibit tanaman obat dengan beberapa jenis di lahan tidak perlu besar , setalah panen diolah dan di ekstrak hingga bisa menjadi obat-obatan herbal dalam bentuk serbuk atau cairan  , bahkan dibuat seperti teh . tentunya obat-obatan ini akan dijual dengan dikemas dengan menarik serta memilki izin dari dinas kesehatan . sangat menarik jika ide seperti ini bisa di kembangkan oleh warga desa , sehingga banyak lahan kosong yang bisa di manfaatkan dan menghasilkan sesuatu .

Desa Tegalwaru yang berada di kaki gunung salak bogor yang udaranya masih sangat bersih bebas polusi , membuat kita betah untuk tinggal beberapa hari disana. DI Kampung wisata bisnis tegalwaru (KWBT) ini ada beberapa sentra usaha yang bisa kita kunjungi dan bisa belajar untuk tau seperti apa konsep bisnis dan ide-ide kreatif yang dibuat oleh masyarakat desa.

Sebuat saja industry kerajinan untuk membuat berbagai aksesoris , pengembangbiakan ikan patin , kebun herbal , pengolahan selai kelapa , pengolahan nata de coco ( sangat kaget ketika tahu bahwa sebuah merk minuman wong coco ternyata bahan nata de coco nya berasal dari desa tegalwaru ) yang terfikir oleh kami bagaimana jika satu hari nanti desa tegalwaru bisa mengolah nata de coco hingga menjadi produk minuman dengan merk sendiri ? tentunya akan luar biasa dan banyak warga desa yang bisa bekerja , selain itu ada juga pengolahan briket arang untuk bahan bakar rumah tangga , pengolahan kecap, cuka, saus dan pindang ikan  , peternakan sapi , domba dan kelinci , budidaya jamur tiram hingga pengolahan krupuk.

Setiap minggunya desa tegalwaru di kunjungi oleh puluhan bahkan ratusan orang dari berbagai daerah untuk berwisata dan belajar . Ada beberapa program wisata edukasi yang bisa kita nikmati selama berada di desa tegalwaru; pelatihan wirauasaha , pelatihan aneka kreatiftas dan outbound.  Banyak hal keren yang ada di desa tegalwaru selain banyak objek yang bisa kita kunjungi , disana juga banyak pejuang-pejuang desa yang kreatif , sebut saja ibu rara , yang hari-harinya memberikan pelatihan bagi warga atau pengunjung yang ingin belajar tentang pengolahan tanaman obat , bahkan sering di undang ke berbagai daerah untuk memberikan pelatihan tentang tanaman obat.

Buat kalian yang butuh tempat dan hal-hal baru yang keren , bisa dating ke desa tegalwaru  untuk pengalaman bagaimana dengan hal yang sederhana bisa berbuat untuk desa Indonesia . (esa/psdi)

 

Sumber : Kompasiana

TATIEK KANCANIATI, SANG PELOPOR KAMPUNG WISATA BISNIS TEGALWARU

TATIEK KANCANIATI, SANG PELOPOR KAMPUNG WISATA BISNIS TEGALWARU

Media Online

Mbak Tatiek Kancaniati seorang ibu dari tiga orang anak, dan mempunyai seorang suami pegiat pemberdayaan masyarakat juga di Dompet Dhuafa. Kiprahnya di dunia pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan sangat diwarnai oleh peran suami yang selama ini dianggap sebagai guru. Mbak Tatiek lahir di Bogor, 1 Oktober 1974. Menyelesaikan pendidikan dari Fakultas Komunikasi Penyiaran Islam Syahid, Diploma III Fateta IPB, Akta IV IKIP Jakarta. Seorang social entrepreneur leader yang saat ini bekerja sebagai Trainer Social Entreprenuer Leader dan wiraswata.

Ketertarikannya menekuni bidang ini karena melihat banyak sekali sebenarnya potensi di kampung tempat tinggalnya, yakni Tegalwaru yang dapat dikembangkan untuk mendorong perkembangan ekonomi desa. Setelah menyelesaikan pendidikan Social Entreprenue Leader, Mbak Tatiek mencoba berbagai jenis usaha seperti Koperasi Mandiri, nata de coco, handycraft dan sebagainya. Namun dirasakan belum sesuai “passion” sebenarnya. Booming tentang kampung wisata sudah marak di berbagai tempat, Mbak Tatiek terinspirasi untuk mengembangkan hal sejenis di Tegalwaru. Karena masyarakat di Tegalwaru umumnya adalah pebisnis yang mempunyai usaha rumahan. Oleh karena itu digagaslah Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru. Sepertinya ini model pertama yang ada di Indonesia, karena unsur bisnis dalam paket wisata yang dipromosikan ke berbagai pihak.

Tegalwaru terletak di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Masyarakat di kampung ini mempunyai berbagai usaha rumahan seperti: wayang golek, golok, pacul, selai kelapa, nata de coco, rumah herbal, handycraft, ternak domba, ternak ikan, tas, dan sebagainya selanjutnya disebut UKM. Mbak Titiek mempromosikan UKM ini menjadi ikon kampung wisata bisnis. Sudah lebih dari 15.000 pengunjung dari berbagai tempat datang dan belajar bisnis sesuai dengan minat masing-masing. Tentu hal ini memberikan tambahan income bagi para pelaku UMKM karena hubungan yang intens dan terbukanya pasar dengan berbagai pihak.

Kegiatan yang dilakukan Mbak Tatiek sudah sangat banyak antara lain sebagai berikut:

  1. Membentuk kelompok usaha besek bambu sebanak 80 orang di 4 kelurahan (2009)
  2. Membentuk kelompok usaha daur ulang kertas, inspirasi dari kelompok komunitas reggae dan slanker, membina reemaja (2010)
  3. Membentuk kelompok usaha pernak-pernik terigu kapada remaja mesjid Tegalwaru. Inspirasi produk dari anak-anak pengamen jalanan.
  4. Menggagas dan bekerjasama dengan dengan seluruh elemen masyarakat untuk mengembangkan Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru (2010) Kegiatan ini diliput dan ditayangkan di MNC TV, TRANS TV, AN TV, Metro TV, Net TV, Megaswara TV dll.
  5. Membentuk kelompok ibu-ibu super kreatif
  6. Membentuk asosiasi Keluarga Alumni Migran Indonesia (KAMI) Hongkong
  7. Membentuk sekolah Aku Bisa Mandiri kepada 40 anak-anak dhuafa Tegalwaru.

Mimpi dan harapannya masih besar, ke depan kegiatan yang dirintis ini bisa menjadi model dan ditiru tempat lain sehingga gerakan perekonomian dari desa/kampung tercapai lebih cepat. Di sela-sela kesibukannya menjadi pengajar, nara sumber, menerima tamu dari berbagai tempat Mbak Tatiek terus belajar meningkatkan kapasitas dirimu dengan berbagai hal yang positif.

Fokus perhatiannya sekarang adalah memberdayakan TKW di Hongkong, dengan menjadi nara sumber, memberikan pelatihan bisnis dan mendampingi bisnis yang sedang dirintis. Rumahnya tidak pernah sepi dari tamu yang datang berkunjung, berbagi informasi dan mencari inspirasi dari ibu yang penuh kelembutan, energik dan tak pantang menyerah ini. (abr)

 

Sumber : Binaswadaya