Kampung Wisata Bisnis Desa Tegalwaru

Kampung Wisata Bisnis Desa Tegalwaru

Media Online

Kampung Wisata Bisnis , dari beberapa kata ini , yang bisa kita bayangkan tentunya sebuah semangat yang luar biasa yang dimiliki oleh masyarakat desa tegalwaru . Sebuah desa di kabupaten bogor namanya desa tegalwaru . kurang lebih 1 jam dari Jakarta perjalanan yang kami tempuh.

Karena penasaran seperti apa kampung wisata bisnis yang buat oleh masyarakat tegalwaru dan tentunya untuk kami bisa belajar seperti apa membangun  kampung wisata bisnis.

Sebuah konsep yang sangat sederhana dan kreatif membangun sebuah kawasan desa wisata tanpa harus berfikir rumit untuk mencari investor , hanya cukup dengan kebersamaan dan semangat untuk maju , warga desa tegalwaru mampu membuat desa mereka manjadi sebuah kampung wisata bisnis . Awalnya kenapa kami ingin berkunjung ke desa tegalwaru adalah untuk belajar bagaimana menanam dan mengolah tanaman herbal , sangat sederhana cukup dengan menanam bibit tanaman obat dengan beberapa jenis di lahan tidak perlu besar , setalah panen diolah dan di ekstrak hingga bisa menjadi obat-obatan herbal dalam bentuk serbuk atau cairan  , bahkan dibuat seperti teh . tentunya obat-obatan ini akan dijual dengan dikemas dengan menarik serta memilki izin dari dinas kesehatan . sangat menarik jika ide seperti ini bisa di kembangkan oleh warga desa , sehingga banyak lahan kosong yang bisa di manfaatkan dan menghasilkan sesuatu .

Desa Tegalwaru yang berada di kaki gunung salak bogor yang udaranya masih sangat bersih bebas polusi , membuat kita betah untuk tinggal beberapa hari disana. DI Kampung wisata bisnis tegalwaru (KWBT) ini ada beberapa sentra usaha yang bisa kita kunjungi dan bisa belajar untuk tau seperti apa konsep bisnis dan ide-ide kreatif yang dibuat oleh masyarakat desa.

Sebuat saja industry kerajinan untuk membuat berbagai aksesoris , pengembangbiakan ikan patin , kebun herbal , pengolahan selai kelapa , pengolahan nata de coco ( sangat kaget ketika tahu bahwa sebuah merk minuman wong coco ternyata bahan nata de coco nya berasal dari desa tegalwaru ) yang terfikir oleh kami bagaimana jika satu hari nanti desa tegalwaru bisa mengolah nata de coco hingga menjadi produk minuman dengan merk sendiri ? tentunya akan luar biasa dan banyak warga desa yang bisa bekerja , selain itu ada juga pengolahan briket arang untuk bahan bakar rumah tangga , pengolahan kecap, cuka, saus dan pindang ikan  , peternakan sapi , domba dan kelinci , budidaya jamur tiram hingga pengolahan krupuk.

Setiap minggunya desa tegalwaru di kunjungi oleh puluhan bahkan ratusan orang dari berbagai daerah untuk berwisata dan belajar . Ada beberapa program wisata edukasi yang bisa kita nikmati selama berada di desa tegalwaru; pelatihan wirauasaha , pelatihan aneka kreatiftas dan outbound.  Banyak hal keren yang ada di desa tegalwaru selain banyak objek yang bisa kita kunjungi , disana juga banyak pejuang-pejuang desa yang kreatif , sebut saja ibu rara , yang hari-harinya memberikan pelatihan bagi warga atau pengunjung yang ingin belajar tentang pengolahan tanaman obat , bahkan sering di undang ke berbagai daerah untuk memberikan pelatihan tentang tanaman obat.

Buat kalian yang butuh tempat dan hal-hal baru yang keren , bisa dating ke desa tegalwaru  untuk pengalaman bagaimana dengan hal yang sederhana bisa berbuat untuk desa Indonesia . (esa/psdi)

 

Sumber : Kompasiana

TATIEK KANCANIATI, SANG PELOPOR KAMPUNG WISATA BISNIS TEGALWARU

TATIEK KANCANIATI, SANG PELOPOR KAMPUNG WISATA BISNIS TEGALWARU

Media Online

Mbak Tatiek Kancaniati seorang ibu dari tiga orang anak, dan mempunyai seorang suami pegiat pemberdayaan masyarakat juga di Dompet Dhuafa. Kiprahnya di dunia pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan sangat diwarnai oleh peran suami yang selama ini dianggap sebagai guru. Mbak Tatiek lahir di Bogor, 1 Oktober 1974. Menyelesaikan pendidikan dari Fakultas Komunikasi Penyiaran Islam Syahid, Diploma III Fateta IPB, Akta IV IKIP Jakarta. Seorang social entrepreneur leader yang saat ini bekerja sebagai Trainer Social Entreprenuer Leader dan wiraswata.

Ketertarikannya menekuni bidang ini karena melihat banyak sekali sebenarnya potensi di kampung tempat tinggalnya, yakni Tegalwaru yang dapat dikembangkan untuk mendorong perkembangan ekonomi desa. Setelah menyelesaikan pendidikan Social Entreprenue Leader, Mbak Tatiek mencoba berbagai jenis usaha seperti Koperasi Mandiri, nata de coco, handycraft dan sebagainya. Namun dirasakan belum sesuai “passion” sebenarnya. Booming tentang kampung wisata sudah marak di berbagai tempat, Mbak Tatiek terinspirasi untuk mengembangkan hal sejenis di Tegalwaru. Karena masyarakat di Tegalwaru umumnya adalah pebisnis yang mempunyai usaha rumahan. Oleh karena itu digagaslah Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru. Sepertinya ini model pertama yang ada di Indonesia, karena unsur bisnis dalam paket wisata yang dipromosikan ke berbagai pihak.

Tegalwaru terletak di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Masyarakat di kampung ini mempunyai berbagai usaha rumahan seperti: wayang golek, golok, pacul, selai kelapa, nata de coco, rumah herbal, handycraft, ternak domba, ternak ikan, tas, dan sebagainya selanjutnya disebut UKM. Mbak Titiek mempromosikan UKM ini menjadi ikon kampung wisata bisnis. Sudah lebih dari 15.000 pengunjung dari berbagai tempat datang dan belajar bisnis sesuai dengan minat masing-masing. Tentu hal ini memberikan tambahan income bagi para pelaku UMKM karena hubungan yang intens dan terbukanya pasar dengan berbagai pihak.

Kegiatan yang dilakukan Mbak Tatiek sudah sangat banyak antara lain sebagai berikut:

  1. Membentuk kelompok usaha besek bambu sebanak 80 orang di 4 kelurahan (2009)
  2. Membentuk kelompok usaha daur ulang kertas, inspirasi dari kelompok komunitas reggae dan slanker, membina reemaja (2010)
  3. Membentuk kelompok usaha pernak-pernik terigu kapada remaja mesjid Tegalwaru. Inspirasi produk dari anak-anak pengamen jalanan.
  4. Menggagas dan bekerjasama dengan dengan seluruh elemen masyarakat untuk mengembangkan Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru (2010) Kegiatan ini diliput dan ditayangkan di MNC TV, TRANS TV, AN TV, Metro TV, Net TV, Megaswara TV dll.
  5. Membentuk kelompok ibu-ibu super kreatif
  6. Membentuk asosiasi Keluarga Alumni Migran Indonesia (KAMI) Hongkong
  7. Membentuk sekolah Aku Bisa Mandiri kepada 40 anak-anak dhuafa Tegalwaru.

Mimpi dan harapannya masih besar, ke depan kegiatan yang dirintis ini bisa menjadi model dan ditiru tempat lain sehingga gerakan perekonomian dari desa/kampung tercapai lebih cepat. Di sela-sela kesibukannya menjadi pengajar, nara sumber, menerima tamu dari berbagai tempat Mbak Tatiek terus belajar meningkatkan kapasitas dirimu dengan berbagai hal yang positif.

Fokus perhatiannya sekarang adalah memberdayakan TKW di Hongkong, dengan menjadi nara sumber, memberikan pelatihan bisnis dan mendampingi bisnis yang sedang dirintis. Rumahnya tidak pernah sepi dari tamu yang datang berkunjung, berbagi informasi dan mencari inspirasi dari ibu yang penuh kelembutan, energik dan tak pantang menyerah ini. (abr)

 

Sumber : Binaswadaya

Memberdayakan Desa Tegalwaru Jadi Kampung Wisata Bisnis

Memberdayakan Desa Tegalwaru Jadi Kampung Wisata Bisnis

Media Online

Tak Peduli meski Difitnah Cari Keuntungan Pribadi

Desa Tegalwaru, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sekarang terkenal sebagai pusat bisnis usaha kecil. Tidak main-main, omzetnya kini mencapai Rp 2 miliar per bulan. Semua itu terjadi berkat tangan dingin Tatiek Kancaniati yang sukses menyulap desa tersebut jadi tujuan wisata bisnis yang menyenangkan.

SEKARING RATRI ADANINGGAR, Bogor

Sorak-sorai siswa SMP Islam Terpadu Darul Abidin riuh terdengar di jalan-jalan Desa Tegalwaru, Kabupaten Bogor. Mereka menaiki kereta kelinci keliling kampung. Meski kondisi jalanan sempit serta naik turun, para ABG itu tetap antusias mengikuti kegiatan studi banding dengan mengunjungi produk rumahan seperti kerajinan tangan, peternakan, hingga produk tanaman herbal di desa dekat kaki Gunung Salak tersebut.

”Acaranya outbound, tapi dikemas dengan pembekalan jiwa social entrepreneur. Karena itu, mereka diajak melihat cara membuat produk rumahan di beberapa industri rumahan di Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru ini,” papar Tatiek Kancaniati saat mendampingi para siswa pekan lalu.

Desa berpenduduk 12.123 jiwa itu memang dikenal sebagai desa wirausaha. Mayoritas warganya berprofesi pebisnis rumahan atau petani. Yang menjadi daya tarik, setiap RW memiliki jenis bisnis yang berbeda. Ada belasan jenis usaha yang berkembang di desa tersebut.

Di RW 01 banyak ditemui perajin anyaman bambu dan bilik. Lalu, di RW 02 terdapat perajin pandai besi dan golok ukir. Sementara itu, di RW 03 banyak warga yang memilih menggarap lahannya dengan tanaman obat, buah, dan tanaman hias. Di RW 04 bisa disaksikan berbagai industri pembuatan selai kelapa dan pembiakan ikan patin. Dari limbah industri selai kelapa tersebut, beberapa aneka usaha bisa dihasilkan seperti briket arang, nata de coco, dan aksesori.

Menuju lokasi selanjutnya, RW 05, dapat ditemui peternakan sapi, domba, dan kelinci. Produk peternakan itu juga cukup beragam mulai yoghurt, makanan kaleng kambing guling, hingga sop kambing. Selain itu, ada perajin kasur dan buah potong. Lalu, di RW 06 ada budi daya tanaman DAS (daerah aliran sungai). Di wilayah tersebut, mayoritas warganya berprofesi pedagang dan tukang bangunan.

Hampir setiap bulan Desa Tegalwaru menerima kunjungan tamu dari berbagai kota. Itu terjadi berkat kerja keras yang ditunjukkan penggagasnya, Tatiek Kancaniati. Tatiek adalah warga asli desa itu. Namun, Tatiek pernah tinggal di Depok untuk belajar social entrepreneur leader di Yayasan Dompet Dhuafa pada 2008.

”Di sana saya belajar teori pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi. Bagaimana memberdayakan masyarakat dan  bagaimana memetakan potensi sosial ekonomi masyarakat,” ungkap perempuan berjilbab tersebut.

Tatiek menggunakan desanya sendiri untuk objek riset saat mengikuti pelatihan. Sebab, warga desanya gemar berbisnis, namun tidak mampu mengembangkan bisnisnya. Selain itu, dia menemukan banyak persoalan di industri-industri rumahan di kampungnya. Misalnya, ada pabrik selai kelapa, tapi air kelapanya bau dan dagingnya tidak termanfaatkan. Padahal, itu bisa dibikin nata de coco.

Mayoritas juga terkendala pemasaran produk. Karena itu, keuntungan yang diperoleh tidak maksimal. Akibatnya, usaha yang digeluti warga tidak maju-maju.

Karena problem-problem itulah, perempuan 39 tahun tersebut mulai bergerak. Awalnya dia merangkul ibu-ibu di kampungnya. Apalagi, dia mengetahui banyak perempuan di kampungnya yang menikah muda dan tak jarang menjadi janda di usia belia. Karena itu, Tatiek pun mesti memutar otak untuk memberdayakan mereka.

”Saya ingin mereka punya skill sehingga mampu meningkatkan taraf hidup. Selama ini mereka sudah susah-susah membuat kerajinan, tapi penghasilan yang diperoleh tak seberapa,” ujar ibu tiga anak itu.

Akhirnya Tatiek merelakan salah satu lahannya untuk uji coba budi daya bambu. Dari lahan itu, ibu-ibu pembuat besek bisa memanfaatkan bambu dengan gratis. Selain itu, alumnus Fakultas Pertanian IPB tersebut membikin sejumlah pelatihan.

”Saya bikin pelatihan nugget tempe dan sulam pita. Setiap bulan saya keliling ke RT-RT untuk memberikan pelatihan. Saya juga membentuk kelompok pinjaman lunak,” ungkap istri Herman Budianto itu.

Pelatihan tersebut terus berlanjut dan makin banyak peminatnya. Tepat pada bulan Ramadan setahun berikutnya, Tatiek menggelar kegiatan pelatihan yang diberi nama Ngabuburit Kreatif di kediamannya. Pelatihan berlangsung sekitar tiga pekan. Peminatnya mulai meluas, tidak hanya dari Desa Tegalwaru.

”Pelatihannya macam-macam. Bikin pernak-pernik clay, sulam pita, sampai monte akrilik. Kami selang-seling tiga hari sekali,” katanya.

Kegiatan Ngabuburit Kreatif itu terus berlangsung hingga 2010. Kegiatan tersebut dinilai sukses menumbuhkan minat wirausaha kaum perempuan di kampungnya. Alhasil, banyak pihak yang ingin kegiatan tersebut diteruskan. Dari situ, tercetuslah ide untuk memberdayakan Desa Tegalwaru sesuai dengan potensi yang dimiliki. Tatiek bersama ibu-ibu lalu mencetuskan desa itu  sebagai tujuan wisata dengan konsep kampung wisata bisnis.

Sebagai langkah awal, Tatiek menggandeng 20 UKM di desanya untuk mengisi Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Namun, jumlah industri rumahan yang tertarik terus bertambah. Kini lebih dari 35 UKM tergabung di kampung wisata bisnis tersebut.

Meski tampak berhasil, sejumlah kendala dihadapi Tatiek sejak awal pendirian kampung wisata itu. Misalnya, banyak UKM yang ternyata tidak sehat secara bisnis. Karena itu, dia pun mesti mendampingi dan memberikan pelatihan intensif agar bisnisnya bisa sehat dan menghasilkan keuntungan yang maksimal.

Tatiek juga dituduh mengambil keuntungan pribadi lewat Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. ”Saya difitnah. Orang-orang itu bilang saya mengklaim semua produk UKM punya saya pribadi, bukan kampung bisnis. Tapi, saya biarkan saja,” kenangnya.

Tentu saja Tatiek tidak diam saja. Dia tetap menjaga silaturahmi dengan para pejabat desa, tokoh masyarakat, dan warga di kampungnya. Dia kerap mengadakan presentasi untuk menjelaskan konsep kampung bisnis tersebut.

”Saya juga sering mengadakan coaching supaya warga paham, ini semua buat mereka. Bukan untuk saya. Alhamdulillah, lambat laun mereka bisa merasakan manfaatnya, produk mereka makin dikenal dan daya belinya meningkat,” paparnya.

Untuk memasarkan produk kampungnya, Tatiek membuat  website www.kampoengwisatabisnistegalw aru.blogspot.com dan situs jejaring sosial Facebook. Dia juga membuatkan software jual beli secara online serta melayani pembelian dengan delivery order.

Dari berbagai upaya itulah, Tegalwaru akhirnya dikenal sebagai kampung wisata bisnis UKM. Bersama dengan teman-temannya, dia juga membuat kaus bertulisan Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Foto-foto aktivitas mereka lalu diunggah di Facebook atau website.

”Responsnya cepat dan banyak. Banyak yang tertarik ingin berwisata di desa saya. Itu kemudian benar-benar terjadi sampai saat ini,” ujarnya.

Beberapa kali televisi swasta menayangkan wisata bisnis Desa Tegalwaru. Narasumbernya tidak hanya Tatiek sebagai perintis kampung wisata bisnis itu, tapi juga lurah, camat, dan para tokoh masyarakat setempat. ”Itu pula yang membuat Pak Lurah dan Pak Camat yakin bahwa yang saya lakukan selama ini benar-benar ingin memberdayakan desa ini, bukan untuk kepentingan pribadi saya,” tutur dia.

Jumlah kunjungan di Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru terus meningkat. Dalam sebulan, Tatiek bisa menerima hingga sepuluh kunjungan dari berbagai daerah di Indonesia. Untung, warga ikut antusias menyambut para tamu itu. ”Mereka semangat sekali, ada yang jadi tukang parkir, melayani tamu, dan lainnya,” ujar dia.

Bukan hanya itu. Income industri rumahan warga Desa Tegalwaru juga meningkat signifikan. Kini omzet UKM di desa tersebut bisa mencapai Rp 2 miliar. ”Alhamdulillah, gerakan ini  bisa memberdayakan banyak orang, memberikan kebahagiaan bagi warga di sini. Tapi, tentu saja, mereka harus bisa mempertahankan mutu produk dengan rutin mengikuti pelatihan,” imbuhnya. (*/c10/ari)

 

Sumber : JPNN

Tatiek persembahkan kampung wisata bisnis bagi UKM

Tatiek persembahkan kampung wisata bisnis bagi UKM

Media Online

Terdorong untuk memberdayakan pelaku UKM di desanya, Tatiek Kancaniati merintis pendirian Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Dikunjungi sekitar 6.000 orang, omzet total yang didapat pelaku UKM di Tegalwaru mencapai Rp 2 miliar per bulan.

Sejak 2007, Tatiek Kancaniati fokus melakukan pemberdayaan dan pengembangan usaha kecil menengah (UKM) di Desa Tegalwaru, Ciampea, Kabupaten Bogor. Tatiek sendiri merupakan warga asli desa tersebut.

Ia tergerak memberdayakan para pengusaha kecil di desanya setelah beberapa kali mengikuti pelatihan social entrepreneur leader yang diadakan oleh Dompet Dhuafa. Pelatihan itu sendiri bertujuan untuk membangun jiwa entrepreneur. “Kebetulan suami saya bekerja di Dompet Dhuafa,” kata Tatiek.

Guna mempraktikkan hasil pelatihan itu, ia pun mendirikan Yayasan Kuntum Indonesia. Yayasan itu didirikan pada 2007. Lewat yayasan itu, dia mengajak ibu-ibu rumah tangga untuk terlibat dalam usaha pembuatan tas anyaman bambu.

Setahun kemudian, ia juga merintis usaha produksi nata de coco. Usaha ini juga melibatkan warga desa setempat. Ide usaha ini didapat setelah ia melihat banyaknya limbah air kelapa di desanya. “Kebetulan di Tegalwaru ada pabrik selai kelapa. Nah, limbah air kelapanya saya manfaatkan untuk nata de coco,” kata Tatiek.

Selain dirinya sendiri, Tatiek juga mendorong warga lain di desanya untuk memproduksi nata de coco. Hingga saat ini, sudah ada tiga produsen nata de coco di Tegalwaru, termasuk Tatiek.

Selain nata de coco, ia juga memproduksi arang briket batok kelapa. Demi kemajuan usahanya, pada 2011 ia mengubah nama yayasannya menjadi Kuntum Organizer.

Melalui yayasan itu, Tatiek menggandeng para pemilik usaha lain di Tegalwaru untuk menjadikan desa mereka sebagai Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Kebetulan di Tegalwaru terdapat belasan unit usaha. Di antaranya usaha peternakan, perikanan, nata de coca, kerajinan tas, kerupuk, dan masih banyak lagi.

Tujuan mendirikan kampung wisata bisnis itu tidak lain untuk membantu mengatasi kendala pemasaran yang banyak dihadapi pelaku UKM di desanya. Upaya itu tidak sia-sia. Ia mengklaim, banyak orang kini mengunjungi desanya. “Kami memberikan pelatihan bagi para pengunjung yang datang,” ujarnya.

Setiap pengunjung dipungut bayaran Rp 25.000 untuk mengikuti pelatihan di satu bidang usaha tertentu, lengkap dengan praktik dan tutorial. Sepanjang tahun ini, Tegalwaru telah dikunjungi sekitar 6.000 orang. “Pengunjung datang dari Aceh hingga Papua, baik instansi pemerintah hingga mahasiswa untuk studi banding,” imbuh Tatiek.

Banyak juga pengunjung yang kemudian tertarik memasarkan produk UKM dari desa tersebut. Hasilnya? Tatiek bilang, total omzet yang didapat seluruh pelaku UKM di Tegalwaru kini mencapai Rp 2 miliar per bulan. Dengan jumlah penduduk mencapai 12.000 jiwa, sekitar 40%-nya kini terlibat di dalam kampung wisata ini.

 

Sumber : Kontan

Tatiek Kancaniati, Sukses Berdayakan Masyarakat Desa Telgalwaru

Tatiek Kancaniati, Sukses Berdayakan Masyarakat Desa Telgalwaru

Media Online

Desa Tegalwaru, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sekarang terkenal sebagai pusat bisnis usaha kecil. Tidak main-main, omzetnya kini mencapai Rp 2 miliar per bulan. Semua itu terjadi berkat tangan dingin Tatiek Kancaniati yang sukses menyulap desa tersebut jadi tujuan wisata bisnis yang menyenangkan.

Sorak-sorai siswa SMP Islam Terpadu Darul Abidin riuh terdengar di jalan-jalan Desa Tegalwaru, Kabupaten Bogor. Mereka menaiki kereta kelinci keliling kampung. Meski kondisi jalanan sempit serta naik turun, para ABG itu tetap antusias mengikuti kegiatan studi banding dengan mengunjungi produk rumahan seperti kerajinan tangan, peternakan, hingga produk tanaman herbal di desa dekat kaki Gunung Salak tersebut.

”Acaranya outbound, tapi dikemas dengan pembekalan jiwa social entrepreneur. Karena itu, mereka diajak melihat cara membuat produk rumahan di beberapa industri rumahan di Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru ini,” papar Tatiek Kancaniati saat mendampingi para siswa pekan lalu.

Desa berpenduduk 12.123 jiwa itu memang dikenal sebagai desa wirausaha. Mayoritas warganya berprofesi pebisnis rumahan atau petani. Yang menjadi daya tarik, setiap RW memiliki jenis bisnis yang berbeda. Ada belasan jenis usaha yang berkembang di desa tersebut.

Di RW 01 banyak ditemui perajin anyaman bambu dan bilik. Lalu, di RW 02 terdapat perajin pandai besi dan golok ukir. Sementara itu, di RW 03 banyak warga yang memilih menggarap lahannya dengan tanaman obat, buah, dan tanaman hias. Di RW 04 bisa disaksikan berbagai industri pembuatan selai kelapa dan pembiakan ikan patin. Dari limbah industri selai kelapa tersebut, beberapa aneka usaha bisa dihasilkan seperti briket arang, nata de coco, dan aksesori.

Menuju lokasi selanjutnya, RW 05, dapat ditemui peternakan sapi, domba, dan kelinci. Produk peternakan itu juga cukup beragam mulai yoghurt, makanan kaleng kambing guling, hingga sop kambing. Selain itu, ada perajin kasur dan buah potong. Lalu, di RW 06 ada budi daya tanaman DAS (daerah aliran sungai). Di wilayah tersebut, mayoritas warganya berprofesi pedagang dan tukang bangunan.

Hampir setiap bulan Desa Tegalwaru menerima kunjungan tamu dari berbagai kota. Itu terjadi berkat kerja keras yang ditunjukkan penggagasnya, Tatiek Kancaniati. Tatiek adalah warga asli desa itu. Namun, Tatiek pernah tinggal di Depok untuk belajar social entrepreneur leader di Yayasan Dompet Dhuafa pada 2008.

”Di sana saya belajar teori pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi. Bagaimana memberdayakan masyarakat dan  bagaimana memetakan potensi sosial ekonomi masyarakat,” ungkapnya seperti dilansir jpnn.com.

Tatiek menggunakan desanya sendiri untuk objek riset saat mengikuti pelatihan. Sebab, warga desanya gemar berbisnis, namun tidak mampu mengembangkan bisnisnya. Selain itu, dia menemukan banyak persoalan di industri-industri rumahan di kampungnya. Misalnya, ada pabrik selai kelapa, tapi air kelapanya bau dan dagingnya tidak termanfaatkan. Padahal, itu bisa dibikin nata de coco.

Mayoritas juga terkendala pemasaran produk. Karena itu, keuntungan yang diperoleh tidak maksimal. Akibatnya, usaha yang digeluti warga tidak maju-maju.

Karena problem-problem itulah, perempuan 39 tahun tersebut mulai bergerak. Awalnya dia merangkul ibu-ibu di kampungnya. Apalagi, dia mengetahui banyak perempuan di kampungnya yang menikah muda dan tak jarang menjadi janda di usia belia. Karena itu, Tatiek pun mesti memutar otak untuk memberdayakan mereka.

”Saya ingin mereka punya skill sehingga mampu meningkatkan taraf hidup. Selama ini mereka sudah susah-susah membuat kerajinan, tapi penghasilan yang diperoleh tak seberapa,” ujar ibu tiga anak itu.

Akhirnya Tatiek merelakan salah satu lahannya untuk uji coba budi daya bambu. Dari lahan itu, ibu-ibu pembuat besek bisa memanfaatkan bambu dengan gratis. Selain itu, alumnus Fakultas Pertanian IPB tersebut membikin sejumlah pelatihan.

”Saya bikin pelatihan nugget tempe dan sulam pita. Setiap bulan saya keliling ke RT-RT untuk memberikan pelatihan. Saya juga membentuk kelompok pinjaman lunak,” ungkap istri Herman Budianto itu.

Pelatihan tersebut terus berlanjut dan makin banyak peminatnya. Tepat pada bulan Ramadan setahun berikutnya, Tatiek menggelar kegiatan pelatihan yang diberi nama Ngabuburit Kreatif di kediamannya. Pelatihan berlangsung sekitar tiga pekan. Peminatnya mulai meluas, tidak hanya dari Desa Tegalwaru.

”Pelatihannya macam-macam. Bikin pernak-pernik clay, sulam pita, sampai monte akrilik. Kami selang-seling tiga hari sekali,” katanya.

Kegiatan Ngabuburit Kreatif itu terus berlangsung hingga 2010. Kegiatan tersebut dinilai sukses menumbuhkan minat wirausaha kaum perempuan di kampungnya. Alhasil, banyak pihak yang ingin kegiatan tersebut diteruskan. Dari situ, tercetuslah ide untuk memberdayakan Desa Tegalwaru sesuai dengan potensi yang dimiliki. Tatiek bersama ibu-ibu lalu mencetuskan desa itu  sebagai tujuan wisata dengan konsep kampung wisata bisnis.

Sebagai langkah awal, Tatiek menggandeng 20 UKM di desanya untuk mengisi Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Namun, jumlah industri rumahan yang tertarik terus bertambah. Kini lebih dari 35 UKM tergabung di kampung wisata bisnis tersebut.

Meski tampak berhasil, sejumlah kendala dihadapi Tatiek sejak awal pendirian kampung wisata itu. Misalnya, banyak UKM yang ternyata tidak sehat secara bisnis. Karena itu, dia pun mesti mendampingi dan memberikan pelatihan intensif agar bisnisnya bisa sehat dan menghasilkan keuntungan yang maksimal.

Tatiek juga dituduh mengambil keuntungan pribadi lewat Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. ”Saya difitnah. Orang-orang itu bilang saya mengklaim semua produk UKM punya saya pribadi, bukan kampung bisnis. Tapi, saya biarkan saja,” kenangnya.

Tentu saja Tatiek tidak diam saja. Dia tetap menjaga silaturahmi dengan para pejabat desa, tokoh masyarakat, dan warga di kampungnya. Dia kerap mengadakan presentasi untuk menjelaskan konsep kampung bisnis tersebut.

”Saya juga sering mengadakan coaching supaya warga paham, ini semua buat mereka. Bukan untuk saya. Alhamdulillah, lambat laun mereka bisa merasakan manfaatnya, produk mereka makin dikenal dan daya belinya meningkat,” paparnya.

Untuk memasarkan produk kampungnya, Tatiek membuat  website www.kampoengwisatabisnistegalw aru.blogspot.com dan situs jejaring sosial Facebook. Dia juga membuatkan software jual beli secara online serta melayani pembelian dengan delivery order.

Dari berbagai upaya itulah, Tegalwaru akhirnya dikenal sebagai kampung wisata bisnis UKM. Bersama dengan teman-temannya, dia juga membuat kaus bertulisan Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Foto-foto aktivitas mereka lalu diunggah di Facebook atau website.

”Responsnya cepat dan banyak. Banyak yang tertarik ingin berwisata di desa saya. Itu kemudian benar-benar terjadi sampai saat ini,” ujarnya.

Beberapa kali televisi swasta menayangkan wisata bisnis Desa Tegalwaru. Narasumbernya tidak hanya Tatiek sebagai perintis kampung wisata bisnis itu, tapi juga lurah, camat, dan para tokoh masyarakat setempat. ”Itu pula yang membuat Pak Lurah dan Pak Camat yakin bahwa yang saya lakukan selama ini benar-benar ingin memberdayakan desa ini, bukan untuk kepentingan pribadi saya,” tutur dia.

Jumlah kunjungan di Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru terus meningkat. Dalam sebulan, Tatiek bisa menerima hingga sepuluh kunjungan dari berbagai daerah di Indonesia. Untung, warga ikut antusias menyambut para tamu itu. ”Mereka semangat sekali, ada yang jadi tukang parkir, melayani tamu, dan lainnya,” ujar dia.

Bukan hanya itu. Income industri rumahan warga Desa Tegalwaru juga meningkat signifikan. Kini omzet UKM di desa tersebut bisa mencapai Rp 2 miliar. ”Alhamdulillah, gerakan ini  bisa memberdayakan banyak orang, memberikan kebahagiaan bagi warga di sini. Tapi, tentu saja, mereka harus bisa mempertahankan mutu produk dengan rutin mengikuti pelatihan,” imbuhnya. (as)

 

Sumber : AyoPreneur

Tatiek Kancaniati: Berdayakan Warga lewat Kampoeng Wisata

Tatiek Kancaniati: Berdayakan Warga lewat Kampoeng Wisata

Media Online

Sekian tahun silam, kondisi sepintas Desa Tegalwaru, Ciampea, Kabupaten Bogor, seperti desa-desa lainnya. Di sana, memang sudah ada 10 UKM, tapi produknya biasa saja dan tidak ada sesuatu yang unik. Namun, berkat usaha keras Tatiek, Desa Tegalwaru berubah menjadi desa wisata, yang oleh Tatiek disebut Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru (KWBT).

“Kini, banyak tamu yang berkunjung ke desa kami. Pemasaran produk pun makin meluas ke beberapa daerah, bahkan sampai ke luar negeri. Di Tegalwaru sudah memiliki lebih dari 15 produk yang diproduksi para pelaku UKM. Dulu, pelaku UKM bergerak sendiri-sendiri. Sekarang pemasaran bisa dilihat di web danmedia sosial lainnya. Ditambah lagi, berbagai media juga menayangkan produk desa kami,” ujar Tatiek yang warga asli Desa Tegalwaru.

Dalam sebulan, KWBT dikunjungi ribuan orang , bahkan wisa-tawan dari luar Jawa. Banyak pula yang datang berombongan mulai dari anak-anak sampai karyawan perusahaan. “Di KWBT, para wisatawan dapat belajar dan melihat langsung proses produksi dari sebuah usaha berbasis home industry. Misalnya saja saat liburan sekolah lalu, rombongan pelajar SD melihat proses pembuatan kerupuk. Anak-anak pun berkesempatan ikut membuat kerupuk,” jelas Tatiek.

Selain itu, masih banyak lagi yang bisa disaksikan pengunjung di desa yang memiliki 6 RW dan 38 RT ini. Antara lain melihat proses usaha budidaya jamur tiram, tanaman obat, membuat tas, usaha kerajinan daur ulang kertas, budidaya ikan patin, nata de coco, dan lain-lain.

“Di tempat Tanaman Obat, pengunjung diajak jalan-jalan melihat berbagai tanaman obat. Mereka juga mendapat penjelasan khasiat dari masing-masing tanaman,” papar Tatiek seraya mengatakan bahwa KWBT juga menyelenggarakan berbagai pelatihan usaha .

Selain wisata bisnis, di Tegalwaru juga menyajikan outbond dengan berbagai sarana permainan tradisional yang kini sudah langka. Misalnya saja galah asin, gobak sodor, engrang, petak umpet.

“Kalau mau, anak-anak wisatawan juga bisa mandi di sungai yang airnya masih jernih, memancing ikan, dan makan ikan bakar. Lalu, pengunjung juga bisa menyaksikan kesenian Sunda, yaitu musik kecapi dan pertunjukan wayang golek,” tutur Tatiek.

Status sebagai kampung wisata pun membuat usaha pelaku UKM meningkat. Dalam satu bulan, putaran uang bisa mencapai miliaran rupiah. Ekonomi masyarakat pun menggeliat.

Memetakan Masalah
Tentu langkah yang dilakukan Tatiek tak semudah membalik telapak tangan. Butuh ketekunan, kerja keras, dan semangat pengabdian. “Sebenarnya, tujuan awal saya ingin memberikan inspirasi ke masyarakat tentang bisnis-bisnis yang berbasis home industry. Selama ini banyak pelatihan yang hanya memberikan training berbentuk teori,” ujar Tatiek yang sebelumnya beberapa kali mengikuti pelatihan social entrepreneur.

Tidak hanya membekali teori, Tatiek ingin menunjukkan langkah konkret. Lewat Yayasan Kuntum (Kreativitas Usaha Unit Muslimah) yang didirikannya tahun 2006, “Saya merancang sebuah program yang bisa menginspirasi, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan entrepreneur. Saya juga berupaya mendongkrak pemasaran produk UKM Tegalwaru. Alhamdulillah berhasil meski masih banyak tantangan. Antara lain tentang pengembangan produk.”

Langkah-langkah yang dilakukan Tatiek antara lain melakukan pemetaan sosial dan ekonomi beserta masalahnya. Ia bekerja sama dengan kelurahan dan kecamatan untuk menggali data-data tersebut. Selanjutnya, ia mendirikan Koperasi Kampoeng Mandiri.

“Tapi, tidak berjalan sesuai target. Saya tidak belajar sejarah. Ternyata, di Tegalwaru pernah ada koperasi yang tidak amanah sehingga masyarakat sudah merasa tabu.”

Kegagalan tak menyurutkan langkah wanita kelahiran 1 Oktober 1974 ini. Ia terus bersilaturahmi dan melakukan pendampingan, baik dalam bentuk modal usaha, manajemen dan pemasaran produk. Tahun 2010, ia menggagas KWBT.

“Untuk gabung ke KWBT, saya memberikan pelaku UKM MOU kerjasama pelatihan dan sharing training. Saya bekerja sama dengan semua masyarakat untuk mendukung sarana training, misalnya saja penggunaan pendopo dan lapangan.”

Berkat pendekatan yang bagus, mulai dari warga sampai aparat desa dan kecamatan, juga instansi terkait, langkah Tatiek pun mendapat dukungan positif. “Sebelumnya, rata-rata para pelaku UKM kesulitan di bagian pemasaran. Nah, dengan KWBT ini ada solusinya.”

Tentu Tatiek juga mesti membangun UKM yang kokoh di desanya, Ia membentuk kelompok usaha per jenis produk. “Dulu, saya memberikan pendampingan dan modal usaha untuk perajin anyaman besek. Ada 4 kelompok yang masing-masing terdiri dari 20 orang. Lalu, saya membina pedagang warung kecil dan memberikan pelatihan usaha. Sekarang mereka yang sebagian besar ibu-ibu sedang membuat usaha kerajian tangan. Mereka membuat kelompok perajin tas dan mendirikan koperasi tas. Sekarang, mereka enggak tabu lagi dengan koperasi,” jelas Tatiek.

Selain itu, Tatiek semula memprioritaskan usaha yang dalam analisanya punya pasar yang bagus. Dari hasil pemetaannya, “Produk seperti tas, herbal, handycraft, dan beberapa produk lain punya pasar yang bagus. Kelompok-kelompok usaha ini sudah terbentuk. Tinggal pendampingan dan bantuan modal usaha. Saya mengoptimalkan pertemuan bulanan untuk supervisi.”

Gencar Promosi
Agar KWBT dikenal luas, Tatiek gencar melakukan upaya promosi. Baik lewat blog, Facebook, maupun menulis di berbagai media. Karena KWBT memang menjanjikan potensi besar sebagai destinasi wisata nan unik, banyak media yang kemudian meliput.

Nama KWBT pun makin dikenal kalangan luas. Tatiek juga tak keberatan memenuhi undangan untuk mengisi seminar. “Saya pernah diundang beberapa BUMN, universitas, sampai pembinaan TKW di Hongkong,” kata Tatiek.

Upaya yang dilakukan Tatiek membuahkan hasil. Pelan tapi pasti wisatawan tertarik mengunjungi KWBT. Ada yang sekadar refreshing, belajar, sampai studi banding. Yang membesarkan hati Tatiek, “Dari hasil penelitian seorang mahasiswa untuk skripsinya, pengunjung puas setelah mengunjungi KWBT. Banyak juga yang mengaku terinspirasi. Namun, saya sadar, dari sisi infrastruktur masih perlu dibenahi,” papar Tatiek seraya menjelaskan pengunjung bisa menginap di vila joglo.

Tatiek lebih berlega hati ketika melihat upayanya untuk menaikkan perekonomian warga sudah mulai berbuah. “Produk masyarakat, kan, sudah makin dikenal. Omzet pun meningkat. Kami bisa mandiri mendirikan sekolah untuk anak yatim piatu di Desa Tegalwaru. Mereka mendapatkan skill bisnis dan modal usaha gratis. Meski begitu, saya tak boleh cepat berpuas. Masih banyak pekerjaan rumah tentang kualitas produk dan pemenuhan bahan baku,” ujar Tatiek yang bekerja sama dengan beberapa pihak untuk mengembangkan KWBT.

Untuk langkah ke depan, Tatiek ingin mengadopsi program ini untuk diterapkan di desa-desa lain di seluruh Tanah Air. Ia ingin membuat sekolah paket C untuk para warga yang belum menyelesaikan sekolah. Ia juga ingin mengembangkan STIEM Bisnis Indonesia di Tegalwaru.

“Sekarang sudah berdiri, tinggal mencari mahasiswanya,” ujar perempuan berlatar pendidikan D3 Fakultas Teknologi Pertanian IPB , Akta 4 IKIP Jakarta, dan Social Entreperneur Leader ini.

Tatiek merasa beruntung langkahnya didukung penuh suami tercinta, Herman Budianto. “Peranan suami sangat besar. Suami seperti sutradara di balik kinerja yang saya lakukan. Kami sama-sama aktif bekerja di LSM. Jadi, visinya sama dalam membangun pemberdayaan masyarakat. Kami berbagi peran, saya fokus pemberdayaan ekonomi, suami fokus untuk pembinaan motivasi dan spiritual,” tutur ibu tiga anak ini.

Tatiek pun mendidik anak-anaknya mandiri sejak kecil. Antara lain mengajari berbisnis sejak kecil. “Saya beri kepercayaan anak-anak untuk jualan es nata de coco di sekolah. Mereka belajar dapat uang dari hasil keringat sendiri. Sekarang yang besar, Fatih, sudah SMA kelas 2. Dia terlihat mengelola bisnis program IT. Nomor dua Azzam, kelas 3 SMP hobi main bola. Lalu si bungsu Khansa kelas 5 SD. Dia berbakat jadi fotografer dan membuat aneka handycraft. Dia juga enggak malu jualan di sekolah.”

Lewat KWBT Tatiek pun merasa bahagia, hidupnya menjadi berkah bagi sesamanya. “Mangga, wilujeng sumping di Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru.”

Henry Ismono, Foto: Dok Pribadi

Sumber : Nova