Hari Terakhir Politeknik Singapura Dan UMJ di Tegalwaru

Hari Terakhir Politeknik Singapura Dan UMJ di Tegalwaru

Galeri Foto

Sedih berbaur bahagia. Hari ini mahasiswa politeknik Singapura berpisah. Terlihat sore tadi mereka membagikan kue-kue dan kenang-kenangan kepada anak-anak desa Tegalwaru sebagai rasa sayang.

Bahagia tidak terkira juga para UKM rasakan kesulitan yang di hadapi saat ini oleh mahasiswa ini di berikan beberapa solusi berupa alat dan beberapa teknologi lain seperti membuat rancangan maket kios, alat pemotong bambu, alat peraga dan model brosur unyil marketing. Decak kagum mereka begitu antusias ingin berusaha memberi solusi dan semangat untuk kemajuan Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Semoga sinergi antar negara ini terus memberikan kebaikan dan kesejahteraan bagi para UKM Indonesia amiin..

25 Mahasiswa Singapura Belajar Kerajinan Tangan di Tegalwaru

25 Mahasiswa Singapura Belajar Kerajinan Tangan di Tegalwaru

Media Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Singapore Polytechnic (SP) menghelat program bersama di Desa Tegalwaru, Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 25 mahasiswa UMJ mendampingi 25 mahasiswa SP dalam melakukan program  yang berlangsung 19-30 Maret itu.

Berdasarkan siaran pers yang disampaikan kepada Republika.co.id,  Jumat (25/3), Program Learning Express (LeX) antara mahasiswa UMJ dengan mahasiswa SP itu memilih desa Tegal Waru, Bogor, yang merupakan desa pembuat kerajinan tangan. Di sana mahasiswa SP dan UMJ akan belajar cara membuat kerajinan tangan bersama warga masyarakat yang ada di lokasi tersebut.

Mahasiwa SP dan UMJ akan berada di desa Tegal Waru selama empat hari dan bermalam di rumah penduduk di desa tersebut. Lalu mereka akan kembali ke Kampus UMJ untuk melakukan diskusi tentang hasil observasi mereka dan melakukan Design Thinking (DT) dan Empathy Study bersama.

Selama berada di Kampus UMJ, mahasiswa SP bermalam di Asrama Mahasiswa UMJ. Program LeX ini didampingi oleh empat dosen pendamping dari Fakultas Agama Islam UMJ dan tiga dosen pendamping dari SP. Program ini yang pertama dilakukan di UMJ, dan kerja sama ini akan berkesinambungan setiap tahun.

Acara pembukaan Program LeX dilakukan di Aula Pascasarjana UMJ pada hari Senin, 19 Maret 2018 dan dibuka oleh Rektor UMJ, Prof. Dr. Syaiful Bakhri, SH, MH. Pembukaan ini juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Agama Islam UMJ, Rini Fatma Kartika, MH dan Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UMJ, Endang Zakaria, MH.

Menurut Kepala KUI UMJ, Endang Zakaria, program LeX antara UMJ dengan SP ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat bersama antara mahasiswa kedua lembaga pendidikan tinggi. Program ini bermanfaat bagi mahasiswa untuk belajar bersama masyarakat dalam membuat kerajinan tangan. Terlebih pembuatan kerajinan tangan menjadi pengalaman pertama bagi mahasiswa SP di Indonesia.

Sumber :
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/sang-pencerah/18/03/23/p60zez423-25-mahasiswa-singapura-belajar-kerajinan-tangan-di-tegalwaru

Galeri Foto

Menerima tamu mahasiswa ekonomi syariah IPB dan komunikasi Universitas Pakuan , ke 3 mahasiswa ini sudah bolak-balik konsultasi terkait skripsinya tentang kampung wisata bisnis Tegalwaru.

Mahasiswa ekonomi syariah IPB tertarik meneliti tentang prospek pembentukan BMT syariah dalam mendongrak bisnis UKM dan menjadikan lembaga finansial yang amanah dan aman serta melepas masyarakat dari jeratan bank keliling.

Mahasiswa ke dua tertarik meneliti tentang proses penerapan parawisata halal di kampung wisata bisnis Tegalwaru dan ini sangat menarik dikarenakan konsep wisata halal sekarang sedang gencar di naikan oleh dinas pariwisata. Sambil diskusi, Alhamdulillah beberapa syarat sudah terpenuhi. 1. Masyarakat yang menjauh dari riba dalam sistem transaksinya, 2. Penerapan sikap memilih produk yang halal dalam keluarga, 3. Terciptanya masyarakat yang ramah (muslim friendly) karena di sini Alhamdulillah ada sekitar 100 home stay siap menerima tamu untuk menginap dan sinergi lainya. Semoga penelitiannya nanti bisa memberikan rekomendasi positif kepada warga Tegalwaru.

Sedangkan Shella mahasiswi dari Universitas Pakuan meneliti tentang konsep pola komunikasi yang di bangun baik internal maupun eksternal sehingga keberadaan kampung wisata bisnis Tegalwaru ini sedemikian dapat dirasakan oleh banyak pihak.

Semoga hasil skripsi mahasiswa ini bisa menjadi sebuah konsep dan rujukan untuk pengembangan di wilayah lain, amiin…

Sang Pelopor kampung Bisnis dari Tegal Waru

Sang Pelopor kampung Bisnis dari Tegal Waru

Media Online

Lewat ketekunan dan semangat pengabdian, Tatiek Kancaniati berhasil mengubah wajah kampung yang mulanya mati dari geliat bisnis menjelma sebagai kampung wisata. Berkat usaha kerasnya pula Desa Tegal Waru kini mampu menyedot pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, ibu-ibu PKK, majelis taklim, hingga pebisnis dari seluruh Indonesia.

Lahir dan besar di Desa Tegal Waru, Bogor, membuat Tatiek hapal betul dengan pola kehidupan kaum perempuan di kampung halamannya. Tatiek melihat fenomena dari teman semasa kecilnya, tua sebelum waktunya. Meskipun banyak yang mempunyai usaha rumahan, banyak juga yang putus sekolah lalu menikah. Selanjutnya hanya menjadi ibu rumah tangga tanpa punya keterampilan, dan ada juga yang bekerja dengan upah rendah. Melihat kenyataan inilah, Tatiek mulai berpikir ingin menjadi motor penggerak pengembangan wanita pedesaan. Dengan mendirikan Yayasan Kuntum (Kreativitas Usaha Unit Muslimah) Indonesia tahun 2006, Tatiek memberdayakan ekonomi perempuan desanya dengan memberikan berbagai pelatihan keterampilan untuk usaha rumahan sehingga isu pernikahan dini serta putus sekolah bisa terpecahkan. Namun, karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman, kegiatan Yayasan Kuntum Indonesia tidak berjalan semestinya.

NOOR STAR

Kegagalan tak menyurutkan langkah perempuan kelahiran 1 Oktober 1974 ini. Setelah menyelesaikan pendidikannya dan mengikuti program social entrepreneur leader, Tatiek kembali bersemangat untuk memperbaiki kualitas kesejahteraan perempuan di kampungnya dengan melakukan pemetaan dan menentukan prioritas kegiatan. Ia terus bersilaturahmi dan melakukan pendampingan kepada masyarakat, baik dalam bentuk modal usaha, manajemen, dan pemasaran produk. Karena masyarakat Tegal Waru umumnya adalah pebisnis yang mempunyai usaha rumahan, Tatiek akhirnya menggagas sebuah Kampung Wisata Bisnis Tegal Waru. Dia pun mulai memahami psikologi masyarakat pedesaan yang sebetulnya mudah dirangkul asalkan dilakukan dengan pendekatan silaturahmi yang baik.

Di sela kesibukannya yang padat, Tatiek menyempatkan waktu berbincang dengan NooR. Berikut kutipannya:
Mengapa ibu begitu ingin menjadikan kampung Tegal Waru sebagai pusat usaha dan kapan tercetusnya?

Sebagai perempuan dan tinggal di desa, saya mempunyai impian mengubah wajah desa menjadi lebih berwarna, lebih mandiri secara finansial. Saya tidak ingin melihat banyak perempuan yang menikah muda dan tak jarang menjadi janda di usia belia. Saya juga melihat warga desa sebenarnya gemar berbisnis, tapi tidak mampu mengembangkan bisnisnya. Salah satu contohnya banyak industri rumahan yang membuat selai kelapa, tapi air kelapa, arang, dan dagingnya tidak dimanfaatkan. Padahal, itu bisa dibikin nata de coco, arang, hiasan bunga, dan kancing. Kebanyakan dari mereka tidak tahu mengenai pemanfaatan limbah. Hal inilah yang membuat saya harus memutar otak untuk memberdayakan mereka.

Teks: Shiera Heltiani | Foto: Shiera Heltiani & Dok. pribadi | Stylist: Maya

 

Baca selengkapnya di Majalah NooR Volume XII tahun 2014

Kunjungan ke Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru

Kunjungan ke Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru

Media Online

Pada tanggal 20 Februari 2013 lalu, Yayasan Pandu Cendekia bersama dengan PT. Indolearning melakukan kunjungan ke Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru, Bogor. Kunjungan ini pertama dilakukan oleh Yayasan Pandu Cndekia dan kawan-kawan dari Indolearning. Kampoeng Wisata Bisnis merupakan kegiatan pengembangan bisnis dan pemberdayaan masyarakat yang dipelopori oleh ibu Tatiek. Beliau telah melakukan kegiatan ini semenjak dua tahun yang lalu.

 

Dalam bincang-bincang dengan bu Tatiek, beliau menceritakan bagaimana kegiatan ini dimulai. Cukup banyak cobaan, rintangan dan kendala-kendala yang dihadapi, tapi beliau mampu menghadapinya dengan bersabar. Selama dua tahun, Kampoeng Wisata Bisnis dengan kegiatan usahanya telah memiliki omzet sebesar dua milyar rupiah perbulan, sebuah angka yang cukup besar.

 

Kampoeng Wisata Bisnis bukan hanya melakukan kegiatan usaha tapi juga mengadakan pelatihan-pelatihan usaha bagi masyarakat umum yang ingin melakukan usaha sesuai dengan pelatihan yang diadakan. Sudah cukup banyak pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh Kampoeng Wisata Bisnis, baik dilokasi tempat kegiatan Kampoeng Wisata Bisnis berada, atau di lokasi lain sesuai dengan permintaan peserta pelatihan.

 

Melihat keberhasilan bu Tatiek dalam mengembangkan usaha yang berbasis pemberdayaan masyarakat menginspirasi kami sebagai sebuah Yayasan yang juga memiliki basis yang sama untuk mengadopsi kegiatan Kampoeng Wisata Bisnis untuk diaplikasikan ditempat lain yang menjadi basis pemberdayaan Yayasan Pandu Cendekia. insyaAllah dalam waktu dekat Yayasan Pandu Cendekia akan memulainya dengan mengadakan pelatihan usaha yang diikuti oleh para orang tua atau wali anak asuh YPC yang kemudian ditindak lanjuti dengan kegiatan usaha yang disponsori oleh Yayasan Pandu Cendekia.

 

Mudah-mudahan kegiatan ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya para peserta, sehingga mereka dapat hidup mandiri dan terhindar dari ketergantungan bantuan lembaga-lembaga sosial,bahkan diharapkan mereka mampu ber metamorfosa dari mustahik menjadi muzakki, amin.

 

Sumber : Pandu Cendekia

Kampung UKM Digital Wisata Tegalwaru

Kampung UKM Digital Wisata Tegalwaru

Media Online

Kampung Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, kini menjelma sebagai kampung wisata yang mampu menyedot pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, ibu-ibu PKK, majelis taklim, hingga para pebisnis dari seluruh Indonesia. Para pengunjung bisa menikmati nuansa pedesaan di Tegalwaru, sekaligus melihat langsng proses produksi berbagai lini bisnis berbasis home industry.

Berlokasi di Kampung Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Bogor, Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk menjadi urat nadi perekonomian desa. Mulai dari kerajinan sampai dengan kuliner yang ada di desa ini menjadikan Kampung Tegalwaru sebagai sentra UKM di kota Bogor.

Kerajinan yang diproduksi di Kampung Wisata Tegalwaru antara lain: wayang golek, gendang, pandai besi, tas, ukiran, sandal, anyaman, jaket, kerudung. Sedangkan untuk kuliner yaitu makanan ringan/snack, pindang, jamu dan obat herbal. Total UKM yang ada di kampung ini berjumlah sekitar 2000 UMKM.

Dari berbagai macam barang dan jasa yang dihasilkan biasanya dijual melalui toko-toko yang ada di Kampung Tegalwaru, Ciampea maupun orderan yang datang dari luar kota, bahkan sudah sampai luar negeri!

Untuk mengakomodir kepentingan para pengrajin/UMKM dan juga membina pengetahuan dan skill pengrajin, di Kampung Wisata Tegalwaru dibentuk komunitas bernama ‘Kampung Bisnis’. Banyak kegiatan yang dilakukan, misalnya mengikuti pameran di Jabotabek maupun luar daerah, sosialisasi seputar wirausaha/bisnis maupun pelatihan kepada para UKM.

 

Sumber : Kampung UKM Digital

Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru Bogor

Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru Bogor

Media Online

108jakarta.com – Berlokasi di Jalan  Pulekan No. 31, RT.1 / RW.1, Ciampea, Bojong Jengkol, Ciampea, Bogor, Jawa Barat,  Desa Tegalwaru memiliki jumlah penduduk 12.123 jiwa dan sebagian besar berprofesi sebagai petani dan wirausaha.

Lingkungan yang asri didataran Gunung Salak Endah memberikan keuntungan bagi para petani dalam menggarap lahan pertaniannya.

Desa Tegal waru terdiri dari 6 RW dan 38 RT, dan masing-masing RW memiliki spesifikasi usaha masyarakat. Di RW 01 beberapa warga memilih alternatif pencaharian keluarganya sebagai pengrajin anyaman bambu dan bilik.

RW 02 terdapat pengrajin pandai besi dan pesanan golok ukir. RW 03 karena wilayahnya yang masih luas oleh lahan pertanian, menjadikan warga RW 03 ini menggarap lahan mereka dengan tanaman obat, buah dan tanaman hias.

RW 04 berbagai industri pembuatan selai kelapa dan pembiakan ikan patin. Dari limbah indusri selai kelapa, berpotensi melahirkan aneka usaha seperti briket arang, nata de coco dan aksesoris.

RW 05 pun terdapat industri rumahan berupa pengolahan kecap, cuka, saus dan minuman orson, walau menggunakan media produksi yang sangat sederhana, namun bisnis ini telah mampu memberikan pemasukan keluarga.

RW 06 masyarakat dominan sebagai pedagang dan tukang bangunan tapi di beberapa area terdapat budidaya tanaman DAS yang telah cukup diakui banyak pihak.

Suasana pedesaan yang asri ditambah bisnis berbasis home industri, menjadikan kampung  ini sebagai kampung wisata bisnis yang banyak dikunjungi wisatawan. (suh)

 

Sumber : 108 Jakarta

KAMPOENG WISATA BISNIS TEGALWARU

KAMPOENG WISATA BISNIS TEGALWARU

Media Online

Tour Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru

Tidak seperti  tempat wisata pada umumnya, Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru (KWBT) merupakan tempat wisata yang sangat unik, keunikannya bukan hanya sekedar kental akan nuansa pedesaanya, tapi di KWBT ini para wisatawan dapat belajar dan melihat langsung proses produksi dari sebuah usaha berbasis Home industry.
Nama Tegalwaru berasal dari sebuah nama sebuah desa  yang berada di kecamatan Ciampea  Kabupaten Bogor. Desa ini  terkenal sebagai lumbung berbagai  produksi pertanian serta wirausaha. Kehadiran Yayasan KUNTUM Indonesia (YKI) yang didirikan oleh Tatiek Kancaniati seorang Social entrepreneur Leader mampu mengangkat sector usaha kecil menengah (UKM) dengan memberikan bantuan pemodalan dan pendampingan usaha selama 3 tahun, selain itu memunculkan UKM dengan produk-produk baru hasil dari pengembangan modal social yang ada. Dari hasil pendampingan yang telah dilakukan lebih dari 3 tahun ini YKI membentuk KWBT melalui Kuntum Organizer merancang program wisata bisnis jadi bagi masyarakat yang ingin mengasah jiwa wirausahanya atau ingin mendapatkan inspirasi bisnis tempat KWBT adalah tempat yang pas untuk mendapatkan inspirasi tersebut.

Inspirasi Bisnis
Desa yang memiliki 6 RW dan 38 RT dengan jumlah penduduk lebih 12.123 jiwa yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan wirausaha. Secara monografi Desa Tegal Waru terdiri dari 6 RW dan 38 RT, dan masing-masing RW memiliki spesifikasi usaha masyarakat. Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan di RW 01 beberapa warga memilih alternatif pencaharian keluarganya sebagai pengarajin anyaman bambu dan bilik. RW 02 terdapat pengrajin pandai besi dan pesanan golok ukir. RW 03 karena wilayahnya yang masih luas oleh lahan pertanian, menjadikan warga RW 03 ini menggarap lahan mereka dengan tanaman obat, buah dan tanaman hias.
Beranjak dari RW 03, kita dapat melihat di RW 04 berbagai industri pembuatan selai kelapa dan pembiakan ikan patin. Dari limbah indusri selai kelapa, berpotensi melahirkan aneka usaha seperti briket arang, nata de coco dan hiasan/aksesoris.

Tak kalah di RW 05 pun terdapat industri rumahan berupa pengolahan kecap, cuka, saus dan minuman orson, walau mengunakan media produksi yang sangat sederhana telah memberikan income keluarga yang cukup menjanjikan. Kemudian terakhir di RW 06 masyarakat dominan sebagai pedagang dan tukang bangunan tapi di beberapa area terdapat budidaya tanaman DAS yang telah cukup diakui banyak pihak.

Tour KWBT
Dari berbagai jenis usaha berbasis UKM diatas, para wisatawan akan di perlihatkan berbagai proses produksi dari suatu produk yang dipilih, seperti rombongan wisatawan dari perumahan Darmaga cantik dan Griya melati saat libur sekolah kemarin, anak-anak selain diperlihatkan proses membuat adonan kerupuk, anak-anakpun diberi kesempatan untuk mencoba mencetak kerupuknya. Begitu juga dengan kunjungan ke Tanaman Obat, ibu Sutinah  sang pemandu mengajak para anak-anak untuk berkeliling di kebun tanaman obat yang luasnya hampir 1/5 hektar. Dengan seksama anak-anak mengamati satu demi satu tanaman obat serta khasiat yang terkandung dalam tanaman tersebut.

Setelah selesai keliling kebun anak-anak diminta untuk memetik bunga rosella dan langsung dipraktekan cara membuat sirup serta permen dari buah rosella. Nampak wajah-wajah penuh antusias dan semangat terpancar dari wajah mereka. Apalagi setelah sirup jadi mereka dapat langsung menikmati sirup dari buah Rosella tersebut. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke UKM – UKM yang lain.

Outbond On The Road
Mengasah fisik dengan berbagai sarana permainan tradisonal akan dihadirkan di KWBT ini, permainan langka yang nyaris jarang di mainkan seperti: main gelasin, gobak sodor, enggrang, main petak umpet dan permainan tradisional lainya akan menyemarakan wisata kampoeng ini. Selain itu anak-anak dapat merasakan mandi di air sungai yang jernih, memancing dan menagkap ikan di kolam, setelah itu bisa menyantap hasil ikan bakar dari hasil tangkapan ikan tersebut.

Kesenian Sunda
Suasana pedesaan yang asri akan semakin terasa dengan penampilan kesenian sunda berupa music kecapi dan pertunjukan golek si cepot, salah satu UKM yang sehari-harinya membuat Golek ini akan mempertunjukan cerita golek yang sangat mengasikan, selain itu anak-anakpun dapat berfoto bersama si cepot.

Banyak hal yang akan anda dapatkan jika berkunjung ke KWBT ini, selain nuasa pedesaan yang memberikan angin segar dari kepenatan suasana kota, andapun pulang dari KWBT akan mendapatkan jaringan dan inspirasi bisnis yang bisa anda terapkan dirumah anda sendiri. Mangga..Wilujeng Sumping di Kampoeng Wisata Bisnis Tegalwaru (Tk)

 

Sumber : Bobar Online

Tatiek persembahkan kampung wisata bisnis bagi UKM

Tatiek persembahkan kampung wisata bisnis bagi UKM

Media Online

Terdorong untuk memberdayakan pelaku UKM di desanya, Tatiek Kancaniati merintis pendirian Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Dikunjungi sekitar 6.000 orang, omzet total yang didapat pelaku UKM di Tegalwaru mencapai Rp 2 miliar per bulan.

Sejak 2007, Tatiek Kancaniati fokus melakukan pemberdayaan dan pengembangan usaha kecil menengah (UKM) di Desa Tegalwaru, Ciampea, Kabupaten Bogor. Tatiek sendiri merupakan warga asli desa tersebut.

Ia tergerak memberdayakan para pengusaha kecil di desanya setelah beberapa kali mengikuti pelatihan social entrepreneur leader yang diadakan oleh Dompet Dhuafa. Pelatihan itu sendiri bertujuan untuk membangun jiwa entrepreneur. “Kebetulan suami saya bekerja di Dompet Dhuafa,” kata Tatiek.

Guna mempraktikkan hasil pelatihan itu, ia pun mendirikan Yayasan Kuntum Indonesia. Yayasan itu didirikan pada 2007. Lewat yayasan itu, dia mengajak ibu-ibu rumah tangga untuk terlibat dalam usaha pembuatan tas anyaman bambu.

Setahun kemudian, ia juga merintis usaha produksi nata de coco. Usaha ini juga melibatkan warga desa setempat. Ide usaha ini didapat setelah ia melihat banyaknya limbah air kelapa di desanya. “Kebetulan di Tegalwaru ada pabrik selai kelapa. Nah, limbah air kelapanya saya manfaatkan untuk nata de coco,” kata Tatiek.

Selain dirinya sendiri, Tatiek juga mendorong warga lain di desanya untuk memproduksi nata de coco. Hingga saat ini, sudah ada tiga produsen nata de coco di Tegalwaru, termasuk Tatiek.

Selain nata de coco, ia juga memproduksi arang briket batok kelapa. Demi kemajuan usahanya, pada 2011 ia mengubah nama yayasannya menjadi Kuntum Organizer.

Melalui yayasan itu, Tatiek menggandeng para pemilik usaha lain di Tegalwaru untuk menjadikan desa mereka sebagai Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Kebetulan di Tegalwaru terdapat belasan unit usaha. Di antaranya usaha peternakan, perikanan, nata de coca, kerajinan tas, kerupuk, dan masih banyak lagi.

Tujuan mendirikan kampung wisata bisnis itu tidak lain untuk membantu mengatasi kendala pemasaran yang banyak dihadapi pelaku UKM di desanya. Upaya itu tidak sia-sia. Ia mengklaim, banyak orang kini mengunjungi desanya. “Kami memberikan pelatihan bagi para pengunjung yang datang,” ujarnya.

Setiap pengunjung dipungut bayaran Rp 25.000 untuk mengikuti pelatihan di satu bidang usaha tertentu, lengkap dengan praktik dan tutorial. Sepanjang tahun ini, Tegalwaru telah dikunjungi sekitar 6.000 orang. “Pengunjung datang dari Aceh hingga Papua, baik instansi pemerintah hingga mahasiswa untuk studi banding,” imbuh Tatiek.

Banyak juga pengunjung yang kemudian tertarik memasarkan produk UKM dari desa tersebut. Hasilnya? Tatiek bilang, total omzet yang didapat seluruh pelaku UKM di Tegalwaru kini mencapai Rp 2 miliar per bulan. Dengan jumlah penduduk mencapai 12.000 jiwa, sekitar 40%-nya kini terlibat di dalam kampung wisata ini.

 

Sumber : Kontan

Tegal Waru, Kampung Usaha Beromzet Rp 2,2 Miliar

Tegal Waru, Kampung Usaha Beromzet Rp 2,2 Miliar

Media Online

REPUBLIKA.CO.ID, Tatiek Kancaniati  pun membuat sistem penjualan produk Desa Tegal Waru secara online. Pengunjung kini dapat membuka situs tegalwarukreatif.com dan facebook untuk melihat beragam produk olahan rumah tangga khas Tegal Waru.

Dengan harga terjangkau, masyarakat bisa membeli hasil produksi dengan sistem delivery order.  Tak hanya itu, Tatiek kemudian membuat satu konsep kampung wisata wirausaha. Tegal waru pun memiliki brand Kampoeng Wisata Bisnis Tegal Waru.

Dia mulai mengundang warga luar untuk melihat dari dekat bagaimana kemandirian warga Desa Tegal Waru dengan usahanya yang heterogen. “Setiap bulan ada sekitar sepuluh kunjungan,”jelasnya.

Kebanyakan, kunjungan didominasi oleh pelajar. Dari anak SD hingga mahasiswa. Sesekali, tutur Tatiek, kaum ibu pun tidak mau ketinggalan untuk ikut belajar dari warga Tegal Waru.

Mereka datang tidak hanya dari Jawa Barat. Pengunjung juga berasal dari Cilegon dan Palembang. Bahkan, beberapa waktu lalu, perwakilan calon pensiunan polisi seluruh Indonesia mengunjungi Tegal Waru. “Mereka belajar untuk berwirausaha setelah pensiun nanti,”ujarnya.

Desa pun kian hidup. Saat ini, ada beberapa restoran dan rumah makan yang dibuka untuk melayani para pengunjung kampung wirausaha. Dari inovasi itu, Tatiek mengaku bisa meningkatkan omzet semua unit usaha di Tegal Waru hingga di angka Rp 2,2 miliar.

Tatiek juga bisa mereguk keuntungan dari pemasarannya lewat situs online. Jika sedang ramai, dalam sebulan, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mendapatkan bagi hasil hingga mencapai Rp 10 juta. “Berkisar Rp 6 juta hingga Rp 10 juta per bulan,”jelasnya.

Belum lagi dari hasil fee masuk para pengunjung Kampung Wisata Bisnis Tegal Waru. Dengan tiket masuk Rp 25 ribu per orang, Tatiek rata-rata bisa mendapatkan hingga Rp 10 juta. Hanya, pemasukan itu tak disentuh Tatiek. Menurutnya, pendapatan dari KWBT diperuntukkan membayar biaya operasional dan para trainer.

 

Sumber : Republika